Sabtu, 27 Januari 2018

Business Report

Business Report
Explanation

A business report is a written document that provides information, and sometimes analysis, to assist a business in making informed decisions. The main purpose of a business report is to make data that is relevant to the company, such as information regarding efficiency, competition, or procedures, easily available to everyone in the company. The report needs to make this data easy for the reader to understand. The best way to do that is to have clearly defined sections with labels and headings.
How to Write a Business Report
Writing a business report requires the ability to analyze things. In addition to that, you need to know what are the important factors you need to consider to complete the task.
  • Check periodic reports. Next, compare and contrast past and present data. This helps you come up with better content on the report.
  • Complete the report. Once you have all the files, start writing what you found out. However, do not provide recommendations as reports are intended to only present data
Parts of a Business Report
A complete business report has the following parts. Each part is briefly explained. Essential elements or Parts of a Business Report. Here are some of the essential elements or parts of a business report.
1. Title Page
It is otherwise called as heading of the report. The title page contains the details of the name and address of the reporter, the name and address of the receiver and the date and place of submission of a report.

2. Table of Contents
It is desirable to give the table of contents at the beginning of the report. It gives full view of the report. One can know the full contents of the report briefly by reading the table of contents. Moreover, the reader can turn the required page number to study the specified heading very easily. It means that the table of contents have not only contents but also include page number of heading and sub-heading of the report.

3. List of Figures (or) List of Illustrations
This part contains the map and pictures which are related to the report. Such type of map and pictures enable the readers for proper and clear understanding of the report. The name of map and pictures are given with page number under this part.

4. Abstract or Summary
An abstract or summary gives overall view of the report briefly. An abstract is called synopsis. There is no hard and fast rules to be followed in writing an abstract or summary. But, it is generally agreed that 300 words to 500 words are used for writing an abstract or summary.

5. Introduction
Introduction is the first part of any type of report. It contains the following information.

6. Discussion (or) Description or Body of the Report
This is the main part of the report. The subject matter of the report should be systematically presented with suitable headings and sub-headings. It contains the facts found by the reporter(s) along with his/their comments. The subject matter is dealt with the help of charts, graphs, statistical tables etc. Sometimes, excerpts from other reports can be included in order to improve the quality of the report.

7. Recommendations
The reporter(s) can present the report along with his/their recommendations which are based on the findings. When a report is prepared by a committee or sub-committee, the recommendations are put in the form of “motions” or “resolutions”.

8. Conclusion
The reporter should give a definite conclusion at the end of the report. Generally, the conclusion is based on the findings and nature of the subject matter dealt in the report.

9. List of References
Some excerpts may be used from any other report or books, periodicals, magazines, journals etc. If so, the page number of the relevant items should be given as footnotes on the page on which they are cited or given as references at the end of the report. The list of references may be arranged in an chronological order in which they occur in the report or presented in an alphabetical order.


10. Bibliography
In the case of market report, the reporter presents the report based on the extensive research. He/she may refer the number of books for writing the report. Such books are given as bibliography at the end of the report.

11. Glossary
Glossary is the explanation of the technical terms used in the report writing. Some reporters are given such explanation as footnotes on the page in which the technical term used. Some reporters are given the explanation at the end of the report. There is no hard and fast rules for giving the glossary. The readers can understand the report in right direction and sense if the glossary is given.

12. Appendices
Primary data is used to collect the information for report writing. Besides, some statistical information are also collected and used for report writing. Such information cannot be incorporated in the main body of the report in order to keep the main line of argument. But, these are necessary for proper understanding of the report. Hence, these are given as Appendices at the end of the report.

13. Index
Index is divided into two. They are subject index and name index. Subject index means an indication of page number(s) of important words. Name index means an indication of page number of various individuals or institutions which are appearing in the body of the report. Index is highly useful to the readers who can easily turnout the page number for quick reference.

14. Signature
The business report is signed by the person(s) who has (have) submitted along with date. In the case of committee or sub-committee report, all the persons are expected to sing with date. If not so, the chairman of such committee or sub-committee can sign with date on behalf of its members.

Example Business Report:



Sabtu, 25 November 2017

Seorang Kuli Bangunan Tangguh



Seorang Kuli Bangunan yang Tangguh 

Setiap hari saat ini dirumah selalu bising sedang dilakukannya renovasi. Ada 5 pekerja, diantaranya 4 orang sebagai kuli bagunan dan 1 sebagai mandor. Kuli bangunan atau biasa yang disebut buruh banguanan ini selalu datang tepat waktu pukul 06.30, istirahat pukul 12.00 dan selesai pukul 17.00 teratur setiap hari. Asep adalah salah satu nama kuli bangunan yang berkerja di rumahku. dia salah satu kuli bangunan yang umurnya masih sangat muda dibandingkan yang lainnya. Umurnya masih 17 tahun. dia berasal dari kota Bandung.
Latar belakang Asep ini hanya sebatas lulusan SMP. Karena kondisi yang tidak memungkinkan dan juga modal yang tidak cukup, maka Asep ini tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Perannya sebagai tulang punggung keluarga mendorong Asep terpaksa untuk mengambil keputusan merantau demi menghidupi orangtua dan adiknya.  Menjadi kuli bangunan adalah ajakan dari seseorang yang baru dikenalnya saat di Bogor. Berpikir asal mendapatkan uang dengan halal agar bisa mengirimkan uang untuk orangtuanya,  ia pun akhirnya menerima tawaran itu, walaupun kadang resikonya mengancam keselamatan dirinya. Dari kejadian itu ia sering diajak jika ada proyek-proyek seperti: membuat gedung, bangunan, rumah, dan jembatan. Disaat remaja usia 17 tahun lainnya sekolah, bermain bersama teman, bahkan hidup enak, dan bisa nongkrong dengan memegang rokok. Nasib Asep tidak seberuntung remaja-remaja lainnya. Belum lagi setiap melihat adikku yang kebetulan umurnya sama dengannya bisa bersekolah yang seharusnya adalah kewajiban seusianya.
Dalam bekerja Asep ini tidak banyak bicara, mengobrol, atau kebanyakan duduk seperti yang lainnya. Asep selalu fokus dengan kerjaan yang sedang dikerjakan dan berbicara jika diperlukan. Jika aku tidak sedang kuliah aku mengawasi pekerjaan Asep dan kuli bangunan lainnya. Sedih melihatnya, seharusnya belum waktunya ia untuk memikirkan uang. Hujan dan teriknya panas ia lalui tak kenal lelah demi kelangsungan hidupnya. Keringat bercucuran bukti bahwa kesungguhannya dalam berkerja. Aku yakin Asep punya alasan dan impian dibalik kerjanya yang selalu fokus tanpa peduli dengan apapun.
Dalam kehidupan ini semua mahluk hidup sudah dikasih rezekinya masing-masing oleh Sang Pencipta, dan kecukupan rezeki tersebut tergatung cara kita mensyukurinya. Kehidupan orang lain tidak harus sama dengan kita, dalam hal seperti ini kita tidak diperbolehkan selalau menoleh ke atas, tetapi menolehlah ke bawah, masih banyak orang diluar sana tidak seberuntung kita dan masih membutuhkan bantuan tangan kita. Jika ingin menempuh kesuksesan berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Aku yang umurnya lebih tua dari Asep belom dapat menghasilkan uang untuk orangtua. Tetapi dalam hati setiap anak salah satu impiannya adalah membahagiakan kedua orangtuanya hingga meneteskan air mata kebahagiaan.

Sabtu, 03 Juni 2017

Kasus Kemiskinan di Indonesia

ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI





Disusun Oleh:
NAMA       : SYIFA FARIHAH
NPM           : 26215780
KELAS       : 2EB06
DOSEN      : TRI DAMAYANTI




UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2015 – 2016



Kasus Kemiskinan di Indonesia

A.    Definisi Kemiskinan
Dalam kamus ilmiah populer, kata “Miskin” mengandung arti tidak berharta (harta yang ada tidak mencukupi kebutuhan) atau bokek. Adapun kata “fakir” diartikan sebagai orang yang sangat miskin. Secara Etimologi makna yang terkandung yaitu bahwa kemiskinan sarat dengan masalah konsumsi. Hal ini bermula sejak masa neo-klasik di mana kemiskinan hanya dilihat dari interaksi negatif (ketidakseimbangan) antara pekerja dan upah yang diperoleh.
      Kemiskinan juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau bisa dikatakan dengan suatu kondisi serba kekurangan dalam arti minimnya materi yang dimana mereka ini tidak dapat menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan lainnya yang tersedia pada zaman modern.
      Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Pemahaman utamanya mencakup:
1.     Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
2.     Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang lainnya.
3.     Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan di luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya bekerja melarang.

B.     Indikator-Indikator Kemiskinan
Untuk menuju solusi kemiskinan penting bagi kita untuk menelusuri secara detail indikator-indikator kemiskinan tersebut. Adapun indikator-indikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari Badan Pusat Statistika, antara lain sebagai berikut :
1.      Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).
2.      Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih, dan transportasi).
3.      Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
4.      Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
5.      Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam
6.      Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
7.      Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan
8.      Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
9.      Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil)

C.    Kemiskinan Sebagai Masalah Sosial
Menurut sejarah, keadaan kaya dan miskin secara berdampingan tidak merupakan masalah sosial sampai saatnya perdagangan berkembang dengan sangat pesat dan timbulnya nilai-nilai sosial yang baru. Dengan berkembangnya perdagangan ke seluruh dunia dan ditetapkan tarif kehidupan tertentu sebagai suatu kebiasaan masyarakat, kemiskinan muncul sebagai masalah sosial. Pada waktu itu individu sadarakan kedudukan ekonominya, sehingga mereka mampu untuk mengatakan apakah dirinya kaya atau miskin. Kemiskinan dianggap sebagai masalah sosial, apabila perbedaan kedudukan ekonomi para warga masyarakat ditentukan secara tegas.
Pada masyarakat modern yang kompleks, kemiskinan menjadi masalah sosial karena sikap membenci kemiskinan tersebut. Seseorang bukan merasa miskin karena kurang makan, pakaian, dan perumahan. Namun karena harta miliknya dianggap tidak cukup untuk memenuhi taraf hidupnya yang ada. Hal ini terlihat di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta. Seseorang dianggap miskin karena tidak memiliki radio, televisi, atau mobil. Sehingga lama kelamaan benda-benda sekunder tersebut dijadikan ukuran bagi keadaan sosial ekonomi seseorang, yaitu apakah dia miskin atau kaya. Dengan demikian, persoalannya mungkin menjadi lain, yaitu tidak adanya pembagian kekayaan yang merata.

D.    Penyebab Kemiskinan
Penyebab kemiskinan sangat kompleks, sehingga perspektif dalam melihat berdasarkan persoalan real dalam masyarakat tersebut. Persoalan real dalam masyarakat biasanya karena adanya kecacatan individual dalam bentuk kondisi dari kelemahan biologis, psikologis, maupun kultural sehingga dapat menghalanginya untuk memperoleh peruntungan untuk dapat memajukan hidupnya. Kelompok yang masuk dalam golongan yang tidak beruntung, yaitu kemiskinan fisik yang lemah, kerentaan, keterisolasian dan ketidakberdayaan.
Pada umumnya di Negara Indonesia penyebab-penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut:
1.      Kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia di Indonesia
Seperti kita ketahui lapangan pekerjaan yang terdapat di Indonesia tidak seimbang dengan jumlah penduduk yang ada dimana lapangan pekerjaan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Dengan demikian banyak penduduk di Indonesia yang tidak memperoleh penghasilan itu menyebabkan kemiskinan di Indonesia
2.      Tidak meratanya pendapatan penduduk Indonesia
Pendapatan penduduk yang didapatkan dari hasil pekerjaan yang mereka lakukan relative tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan ada sebagian penduduk di Indonesia mempunyai pendapatan yang berlebih. Ini yang diusebut tidak meratanya pendapatan penduduk di Indonesia.

3.      Tingkat kelahiran yang tinggi
Tingkat kelahiran yang tinggi ini juga dapat memicu terjadinya kemiskinan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya pengeluaran biaya yang lebih besar, sehingga dapat dimungkinkan harta kekayaannya lama kelamaan akan terkuras. Namun hal ini berbeda untuk kelompok sosial yang memiliki penghasilan yang cukup bahkan lebih atau tetap. Mereka menganggap masih mampu menghidupi anggota keluarganya. Maka mereka tidak dianggap sebagai kelompok sosial miskin. Hal ini tampak sebagian besar di kota-kota besar.
4.      Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah
Banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki pendidikan yang di butuhkan oleh perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja. Dan pada umumya untuk memperoleh pendapatan yang tinggi diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi pula atau minimal mempunyai memiliki ketrampilan yang memadai dehingga dapat memp[eroleh pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan dehari-hari sehingga kemakmuran penduduk dapat terlaksana dengan baik dan kemiskinan dpat di tanggulangi
5.      Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global.
Yang penting digarisbawahi di sini adalah bahwa standar pendapatan per-kapita bergerak seimbang dengan produktivitas yang ada pada suatu sistem. Jikalau produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-kapita pun akan naik. Begitu pula sebaliknya, seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita akan turun beriringan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kemerosotan standar perkembangan pendapatan per-kapita:
a.       Naiknya standar perkembangan suatu daerah.
b.      Politik ekonomi yang tidak sehat.
c.       Faktor-faktor luar negeri yaitu: beban hutang, rusaknya syarat perdangangan, dan perang
6.      Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.
Terlihat jelas faktor ini sangat urgen dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus didukung dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang bisa dipertanggungjawabkan dengan maksimal


7.      Biaya kehidupan yang tinggi.
Melonjak tingginya biaya kehidupan di suatu daerah adalah sebagai akibat dari tidak adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga kerja ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan banyaknya pengangguran.
8.      Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.
Hal ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.
9.      Kurangnya perhatian dari pemerintah
Masalah kemiskinan bisa dibilang menjadi maslah Negara yang semakin berkembang setiap tahunnya dan pemerintah sampai sekarang belum mampu mengatasi masalah tersebut. Kureangnya perhatian pemerintah akan maslah ini mungkin menjadi salah satu penyebnya.
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
·       penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
·       penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
·       penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
·       penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
·       penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
E.     Perkembangan tingkat kemiskinan di Indonesia
Bagaimana perkembangan tingkat kemiskinan di Indonesia? Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan laporan tahunan Pembangunan manusia (Human Development Report) 2006 yang bertajuk Beyord scarcity; power, poverty dan the global water. Laporan ini menjadi rujukan perencanaan pembangunan dan menjadi salah satu Indikator kegagalan atau keberhasilan sebuah negara menyejahterakan rakyatnya. Selama satu dekade ini Indonesia berada pada Tier Medium Human Development peringkat ke 110, terburuk di Asia Tenggara setelah Kamboja.
Jumlah kemiskinan dan persentase penduduk miskin selalu berfluktuasi dari tahun ke tahun, meskipun ada kecenderungan menurun pada salah satu periode (2000-2005). Pada periode 1996-1999 penduduk miskin meningkat sebesar 13,96 juta, yaitu dari 34,01 juta(17,47%) menjadi 47,97 juta (23,43%) pada tahun 1999. Kembali cerah ketika periode 1999-2002, penduduk miskin menurun 9,57 juta yaitu dari 47,97 (23,43%) menurun menjadi 38,48 juta (18,20%). Keadaan ini terulang ketika periode berikutnya (2002-2005) yaitu penurunan penduduk miskin hingga 35,10 juta pada tahun 2005 dengan presentasi menurun dari 18,20% menjadi 15,97 %. Sedangkan pada tahun 2006 penduduk miskin bertambah dari 35,10 juta (15,97%) menjadi 39,05 juta (17,75%) berarti penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta (1,78%).
Adapun laporan terakhir, Badan Pusat Statistika ( BPS ) yang telah melaksanakan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada bulan Maret 2007 angka resmi jumlah masyarakat miskin adalah 39,1 juta orang dengan kisaran konsumsi kalori 2100 kilo kalori (kkal) atau garis kemiskinan ketika pendapatan kurang dari Rp 152.847 per-kapita per bulan.

F.      Dampak yang ditimbulkan dari Kemiskinan.
Masalah kemiskinan yang terjadi akan menimbulkan dampak atau akibat yang dapat terjadi yaitu meningkatnya pengangguran yang berkaitan juga dengan  tingkat kriminalitas. Kriminalitas  yang sering terjadi antara lain adalah pencurian, pencopetan, perampokan, dan lain-lain. Alasan mereka melakukan hal itu adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena mereka tidak mempunyai penghasilan atau tidak mempunyai pekerjaan untuk mencukupi kebutuhannya. Seseorang cenderung melakukan apa saja jika terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Baik itu dengan cara halal maupun tidak. Sehingga tingkat kriminalitas meningkat dan pengangguran banyak.
Selain itu kemiskinan juga dapat menyebabkan tingkat kesehatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) semakin rendah. Hal ini terjadi karena masyarakat miskin cenderung kesulitan pula dalam memenuhi kebutuhan makan mereka. Sehingga kandungan gizi yang ada pada makanan yang biasa dikonsumsinya setiap hari kurang, atau bahkan sudah tidak layak konsumsi. Akibatnya, kesehatan mereka terganggu dan tingkat kesehatannya semakin menurun.
Sementara tingkat SDM atau pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat miskin yang semakin menurun, dapat disebabkan karena mereka sulit untuk bersekolah atau menyekolah anak mereka (sebagai orang tua), sehingga pendidikan mereka pun tidak jauh berbeda dengan orang tua mereka. Padahal pemerintah juga telah banyak menetapkan peraturan dan program-program yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan dan agar masyarakat miskin masih tetap bisa bersekolah atau menerima pendidikan hingga di Perguruan Tinggi sekalipun. Namun mungkin semua itu tetap terjadi karena beberapa di antara bantuan yang diberikan kepada masyarakat miskin tidak tepat sasaran. 
G.    Peran pemerintah menanggulangi kemiskinan di Indonesia
Dalam rangka menaggulangi kemiskinan  pemerintah perlu membuat ketegasan dan kebijakan yang lebih membumi dalam menyelesaikan masalah kemiskinan ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan diantaranya adalah :
1.    menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran. Karena pengangguran adalah salah satu sumber penyebab kemiskinan terbesar di indonesia.
2.    Memberikan subsidi pada kebutuhan pokok manusia, sehingga setiap masyarakat bisa menikmati makanan yang berkualitas. Hal ini berdampak pada meningkatnya angka kesehatan masyarakat.
3.    Menghapuskan korupsi. Sebab korupsi adalah salah satu penyebab layanan masyarakat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang kemudian menjadikan masyarakat tidak bisa menikmati hak mereka sebagai warga negara sebagaimana mestinya.
4.    Menggalakkan program zakat. Di indonesia, islam adalah agama mayoritas. Dan dalam islam ajaran zakat diperkenalkan sebagai media untuk menumbuhkan pemerataan kesejahteraan di antara masyarakat dan mengurangi kesenjangan kaya-miskin. Potensi zakat di indonesia, ditengarai mencapai angka 1 triliun setiap tahunnya. Dan jika bisa dikelola dengan baik akan menjadi potensi besar bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat.
5.    Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus program ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama selain beras.
6.    Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar. Fokus program ini bertujuan untuk meningkatkan akses penduduk miskin memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar
7.    Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin.

H.    Kesimpulan
Kemiskinan adalah salah satu masalah sosial yang besar di Indonesia. Masalah kemiskinan adalah masalah kita bersama. Sebagai masalah sosial, kemiskinan harus segera diatasi karena menimbulkan beberapa dampak bagi masyarakatnya, seperti: menurunya tingkat kesehatan karena keterbatasan kemampuan untuk berobat, menurunya pendidikan anak bangsa.karena selain kurangnya biaya untuk menyekolahkan juga pembangunan tidak merata oleh pemerintah dan masih banyak lagi faktor yang menjadi kurang majunya negara Indonesia, karena salah satu ciri negara maju yaitu kesejahteraan masyarakatnya
Masalah kemiskinan tidak hanya tanggung jawab pemerintah, masalah kemiskinan juga tanggung jawab kita bersama. Untuk mengatasi masalah ini, seharusnya pemerintah dan masyarakat saling bekerja sama. Ada beberapa usaha untuk menanggulangi kasus kemiskinan d Indonesia salah satunya adalah pemerintah selain memberi bantuan berupa uang tunai atau bahan makanan, namun juga bisa memberikan pengarahan, pembekalan atau ketrampilan tertentu untuk masyarakat. agar dapat memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk bekerja bahkan membuat pekerjaan, sehingga mampu menghidupi keluarga tanpa menggantungkan hidupnya pada pemerintah. Untuk masyarakat sendiri pun diharapkan mampu melaksanakan program tersebut dengan sungguh-sungguh, meningkatkan etos kerja, meningkatkan kualitas diri, dan mempunyai tekad untuk maju tidak pasrah dengan keadaan, Sehingga program pengentasan kemiskinan yang sudah lama melanda sebagian  masyarakat dapat teratasi.bahkan hilang secara perlahan.



Daftar Pustaka